top of page

Aku hebat!
Ya, aku orang besar!
Bahkan aku dikenal oleh banyak orang di negeri ini.
Siapa tak kenal aku?
Mereka bilang tanganku tangan besi, dengan wajah bertopeng kulit.
Ya, walaupun kakiku hanya beralaskan lempengan kuningan berapa gram saja.
Lebih dari itu, aku merasa orang-orang hina menjijikkan ini selalu menggerogoti aku dengan mulut bau mereka!
Bahkan kerap kali mereka bilang aku penghisap darah mereka!
Padahal mereka sendiri yang mengantar aku ke kursi surga ini.
Ya, walau dengan sedikit bualan dan selembar uang merah, itu cukup untuk menarik simpatik dari orang-orang bodoh ini.
Setelah itu, apa?!
Bahkan setiap hari aku mendengar teriakan mereka, membisingkan telinga dan ragaku yang sedang enak-enaknya menikmati surgaku yang baru.
Hahaha, tawaku kencang meratapi kebodohan mereka!
Mereka sendiri yang mengirimku ke sini, tapi apa, mereka malah memintaku kembali!
Bedebah, kataku!
Tapi setidaknya pundi-pundi koinku semakin bertambah, hartaku semakin berlimpah, dan pesonaku semakin dipuja-puja pecundang lainnya.
Ya, kami sesama pecundang!
Tentu saja pecundang yang bergelimang harta.
Harta yang katanya sebagiannya adalah milik orang-orang hina ini.
Setidaknya aku lebih baik daripada seorang pecundang dengan mulut manis tanpa pengorbanan.
Ya, sekali lagi kukatakan, aku hebat!
Dengan pengorbanan sedikit saja mampu membuat negeri ini tunduk padaku.
Persetan dengan uang mereka, yang penting aku kenyang!
Persetan dengan hak mereka, yang penting aku puas!
Persetan dengan ayat-ayat yang mereka lontarkan, yang penting surgaku sendiri!
Persetan dengan sumpah mereka, mereka hanya orang bodoh, yang penting aku nikmati dulu lima tahun ini!
Setelah itu, apa?!
Kami, para pecundang negeri ini, berbondong-bondong memakai seragam putih milik instansi munafik itu.
Ya, tempat kami yang sesungguhnya!
Kandang untuk pecundang seperti kami!
Tapi ini jauh lebih layak dibandingkan kandang orang-orang hina itu!
Hahaha tawaku kencang sekali lagi, karena mereka bilang ini tak adil.
Salah siapa?
Salahkan nasib kalian!
Aku pecundang hebat, seperti kata kalian!
Tapi aku lebih beruntung dari kalian.
Selamat bertemu di perapian.

Balada Seorang Pecundang

Terjebak di antara dua hati yang tak pasti,
Yang aku sendiri pun tak tahu siapa yang memiliki.
Terjebak oleh permainan cintaku sendiri,
Yang tak seorang pun dapat memahami.

Aku ini milik siapa?!
Dunia membisu, tak kuasa menjawab itu.
Hanya serpihan angin membawa berita.
Bisikan lembut yang merasuk kalbu.

Berulang kali aku sadari kesalahan yang tak kunjung berakhir.
Namun tak kuasa akui kekuranganku, aku lemah dalam hal ini.
Terjebak oleh permainanku sendiri, membuat mata ini meneteskan air.
Air mata kegelisahan, di antara dua pilihan yang tak pasti.

Aku ini milik siapa?!
Hati kecil pun tak mampu memberi jawaban!
Jawaban atas teka-teki serta tanda tanya.
Jawaban atas segala misteri yang tak bertuan.

Kamu, kalian, mereka, tak bisa menjawab semua!
Terlebih aku!
Aku korban!
Aku terhimpit dan sesak di sini!

Heiy, aku ini milik siapa?!
Bahkan aku pun tak tahu, dunia seperti apa yang kujalani saat ini.

Aku Ini Milik Siapa?

cha

 vie

bottom of page